Rasa waswas begitu bergelora ketika tubuh melayang di udara.

Dulu Gua Jomblang tempat yang menakutkan, kini menyimpan potensi pariwisata karst pesisir selatan Jawa. Betulkah? Didasari rasa ingin tahu yang besar, akhir pekan, 15 November 2008, kami membuktikannya.

Gua Jomblang adalah salah satu dari ratusan kompleks perguaan bawah tanah, berada persis di tengah-tengah rentangan perbukitan karst pesisir selatan yang memanjang dari Gombong, Jawa Tengah; pantai selatan Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta; hingga kawasan karst Pegunungan Sewu, Pacitan, Jawa Timur. Kawasan karst yang diyakini sebagai hunian manusia purba muda pada 70-80 abad silam itu memiliki keindahan luar biasa. Karena itu, tak salah jika kawasan karst ini diajukan sebagai warisan dunia (world heritage).

Gua Jomblang itu sendiri terhubung dengan gua-gua di sekitarnya, yang membentuk jaringan besar sungai-sungai bawah tanah. Sejumlah pakar geologi menandai gua-gua ini kaya akan ornamen bebatuan dan kehidupan biota hayati di dalamnya.

Hari itu, bersama kelompok penelusur gua, Acintyacunyata Speleological Club (ASC) Yogyakarta, kami berkumpul di mulut gua, di Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kesan pertama, mulut gua vertikal itu sangat besar. Bisa dibilang kelilingnya hampir sebesar lapangan bola. Hanya, gua itu membentuk luweng alias sumuran berdiameter 100 meter dengan kedalaman 40-80 meter.

Untuk memasuki gua ini diperlukan kemampuan teknik tali tunggal atau single rope technique (SRT). Namun, bagi yang belum memiliki kemampuan SRT secara memadai, dapat memilih jalur penelusuran yang kedalamannya lebih pendek.

Tentu kerja sama tim tak dapat diabaikan dalam perjalanan menuju dasar gua. Ketika salah seorang mulai berkait pada temali untuk menuruni dinding gua, sejumlah teman harus menjagai temali paling atas tetap terpaut pada sebuah batu besar atau pohon jati tua. Yang lain akan menjaga kondisi temali di bawahnya dan orang yang menggunakannya tetap dalam kondisi aman.

Sebelum semua anggota sampai ke dasar gua, hujan telah turun mengguyur. Hal ini mempersulit sebagian anggota karena lintasan yang harus kami lalui berupa bebatuan terjal, yang licin akibat siraman air hujan. Kondisi lintasan ini sempat membuat hati saya ciut. Sebab, pada saat yang sama, saya teringat cerita tentang meninggalnya seorang anggota pencinta alam dari sebuah sekolah menengah atas di Yogyakarta beberapa tahun silam. Ia tewas karena tergelincir.

“Jangan panik. Apa pun yang terjadi, jangan pernah panik,” ujar salah seorang teman, sambil mengecek peralatan pengaman yang saya gunakan untuk turun.

Tentu siapa saja dapat menuruni dinding gua hingga ke dasarnya, kecuali para pengidap takut ketinggian. Saya yang sebelumnya hanya berbekal latihan temali pada sebuah pohon jati saja pun dapat mencapai dasar gua tak lebih dari 20 menit. Rasa waswas begitu bergelora, ketika tubuh melayang di udara, dengan sepenuhnya bergantung pada kekuatan tali yang dilengkapi alat panjat tebing, seperti scroll, jammer, dan descendeur. Memasuki gua juga memerlukan kewaspadaan terhadap hewan berbisa, seperti ular, kalajengking, dan lipan.

Akhirnya, semua anggota rombongan sampai di dasar gua. Panorama masih terlihat jelas dan terang saat kami mencapai dasar gua. Namun, kami belum banyak menjumpai ornamen gua di zona terang ini.

Kami beristirahat sejenak di sebuah cekungan, yang mirip bilik, hasil bentukan alam. Di situ kami menyeduh kopi dan merebus mi instan yang kami bawa dari atas, sambil mengamati keadaan sekeliling. Tumbuhan perdu tumbuh subur di sisi-sisi dinding gua yang masih terkena sinar matahari. Di salah satu sudut, sebuah lorong gelap menanti kami untuk menjelajahi setiap rongga kemisteriusannya.

Saya kemudian teringat cerita seorang teman tentang kisah kelam yang melekat pada Gua Jomblang. Gua ini menjadi tempat yang menakutkan setelah dijadikan lokasi pembunuhan massal orang-orang yang dianggap sebagai anggota Partai Komunis Indonesia. Diperkirakan ratusan warga desa setempat menemui ajalnya setelah dijatuhkan ke dasar Gua Jomblang dan Gua Grubug yang terhubung dengannya. Gemuruh sungai bawah tanah menelan jasad korban dan menghanyutkannya hingga ke pantai selatan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Setelah tragedi itu, penduduk setempat takut masuk ke dalam gua. Mereka menganggapnya keramat. Bahkan pernah terbetik kabar tentang sejumlah warga yang mencoba masuk dan tidak kembali tanpa diketahui penyebabnya. Masyarakat kemudian menggelar doa bersama dan memberi seserahan yang dilemparkan ke dalam gua. Setelah itu, mereka baru berani menelusuri Gua Jomblang. Di dasar gua, mereka menemukan sisa-sisa tulang manusia dan bekas pakaian. Bulu kuduk saya sempat berdiri ketika saya mengingat cerita itu.

Kami melanjutkan penelusuran, meninggalkan zona terang, perlahan-lahan memasuki kegelapan. Suhu gua mulai stabil karena sudah jauh dari pengaruh sinar matahari.

Saya sempat dibuat terheran-heran melihat sebuah jalan batu yang terangkai cukup rapi di dalam lorong. Menurut cerita masyarakat setempat, gua ini sempat direncanakan menjadi lapangan tenis pada masa Orde Baru. Fasilitasnya dilengkapi lift untuk mempermudah akses ke dasar gua. Entah berapa besar kerusakan yang terjadi jika rencana itu benar-benar dilaksanakan.

Pada satu titik, kami mencapai sebuah zona gelap yang tak ada bedanya kala kami memejamkan atau membuka mata. Kegelapan ini semakin dalam ketika kami bersama-sama berdiam diri sejenak. Keheningan dalam kegelapan terasa begitu indah. Seolah membersihkan diri dari segala bising dan hiruk-pikuk dunia luar. Kegelapan ini menyadarkan betapa kecilnya kami sebagai manusia dibanding karya agung Sang Pencipta ini.

Sebenarnya kami belum cukup puas menikmati keheningan, tapi perjalanan harus dilanjutkan. Alur sungai bawah tanah yang menjadi patokan, kembali kami telusuri untuk menuju luwengberikut yang menjadi pintu keluar Gua Jomblang.

Kami pun sampai di ujung lorong besar tersebut, yang ternyata terhubung ke mulut Gua Grubug. Semburat cahaya masuk dari mulut gua di atasnya, menerobos dedaunan liar. Sinarnya tepat menerangi hamparan bebatuan purba di dasar gua, atau bisa disebutsunbeam. Tampaklah apa yang disebut-sebut orang sebagai sebuah mahakarya Sang Pencipta. Sinar tersebut menyentuh sejumlah gourdem, ornamen bebatuan berdimensi besar yang terbentuk atas hasil tetesan air dari atas gua. Di sekitarnya terdapat sejumlah ornamen lain tak kalah indahnya, seperti stalagtit (ornamen yang menjulur dari atas ke bawah), stalagmit (ornamen yang tumbuh dari bawah ke atas), dan microgours (ornamen berkerut-kerut). Bebatuan itu begitu bersih karena aliran atau tetesan air senantiasa melewatinya.

Di bagian utara, sebuah sungai bawah tanah mengalir deras. Ini merupakan bagian dari aliran Kali Suci, yang masuk dalam rangkaian sungai bawah tanah perbukitan karst. Saat aliran air sungai stabil pada musim kemarau, para penjelajah gua kerap menyusuri sungai ini dengan menggunakan perahu karet dan memasuki gua-gua lainnya, yang juga dialiri oleh sungai ini. Sayangnya, saat ini sedang musim hujan. Sehingga, jangankan untuk berperahu, menengok ke dasar sungai untuk melihat alirannya yang sangat deras itu saja sudah membuat hati bergidik.

nb: tulisan ini saya ambil dari berkas lawas, dan pernah dimuat di artikel perhajalanan-koran tempo pada tahun 2009.

About these ads