Penduduk Kampung Laut percaya Gua Masigit Sela dapat dijadikan tempat ngalap berkah.

Pertama kali mendengar nama Kampung Laut, yang terekam dalam benak saya adalah sebuah permukiman perahu, tempat keturunan suku-suku pelaut, seperti Bugis atau Bajau. Namun, tidak demikian yang saya temukan di Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Para penghuni perkampungan yang terletak di tengah-tengah perairan Segara Anakan ini dipercaya sebagai keturunan para prajurit Kerajaan Mataram.

Rasa penasaran terhadap perkampungan yang letaknya berdekatan dengan Pulau Nusakambangan itu menjadi faktor utama saya untuk menjelajahinya. Ini bukan perkara mudah. Untuk mengunjungi Kampung Laut, saya bersama lima teman harus menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan. Walau demikian, kegairahan yang besar menyertai perjalanan kami.

Sebenarnya ada dua rute menuju Kampung Laut yang cukup mudah. Pertama, melalui Pelabuhan Sleko, Kabupaten Cilacap, dan kedua, lewat Pelabuhan Majingklak di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Dari Sleko, perjalanan menuju Kampung Laut menggunakan compreng(perahu motor) dan memakan waktu sekitar 90 menit. Sedangkan dari Majingklak hanya butuh waktu sekitar 20 menit.

Namun, kedua jalur tersebut tidak kami gunakan dalam perjalanan ini. Kebetulan salah seorang kawan bermukim di Kelurahan Donan, Kecamatan Cilacap Tengah, yang menjadi tempat kami menginap. Karena itu, kami harus mengawali perjalanan dari rute lain. Maka perjalanan pun dimulai dari sungai di Kelurahan Donan, yang bermuara ke Segara Anakan. Kawan perjalanan kami bertambah, yakni pengemudi comprengyang meminjamkan perahunya cuma-cuma–ditambah beberapa pemuda sekitar. Ya, hitung-hitung pemuda setempat ini menjadi pemandu perjalanan kami.

Dengan rute dari arah Cilacap Tengah ini, waktu yang harus kami tempuh untuk menuju Kampung Laut menjadi semakin panjang, yakni empat jam! Apalagi ditambah dengan adanya mitos penduduk sekitar mengenai Segara Anakan. “Kalau baru pertama kali naik perahu di Segara Anakan, dilarang tidur di perahu. Nanti bisa nggak pulang,” tutur Aris, salah seorang pemuda Donan yang ikut bersama kami. Terbayang sudah kebosanan dan keletihan yang harus kami tanggung. 

Sebenarnya waktu perjalanan yang lama ini bukan hanya karena jauhnya rute. Namun, perahu motor yang kami gunakan sesekali harus berhenti sejenak untuk mendinginkan mesin. Pada waktu-waktu seperti ini, kami mencoba mengikuti tingkah Aris dan teman-temannya, berenang seraya mencari kerang yang beraneka ragam. Ya, perairan Segara Anakan memang terkenal sebagai penghasil kerang.

“Kerang-kerang dari sini biasanya langsung dikirim ke Bali,” tutur Aris, yang sehari-hari memang bekerja sebagai pencari kerang.

Tidak seperti dugaan semula, perjalanan kami ternyata jauh dari rasa bosan dan jenuh. Sepanjang perjalanan, sisi kiri dan kanan kami dipenuhi dengan tanaman bakau. Selain itu, memasuki kawasan hutan Nusakambangan, sesekali tampak elang laut terbang di angkasa. Keduanya menjadi pemandangan menarik bagi kami, yang sehari-hari hidup di perkotaan yang padat dan menjemukan.

Tak terasa kami pun tiba di Desa Klaces, salah satu desa yang menjadi bagian Kampung Laut. Pemilik perahu menyarankan kami turun sejenak ke desa ini untuk melihat Gua Masigit Sela, yang juga dikenal dengan nama Masjid Sela. Karena bentuk gua menyerupai ruangan masjid, banyak yang menyamakan gua ini dengan masjid. Apalagi di dalam gua ini terdapat tempat imam dan tempat berwudu yang airnya berasal dari sebuah sumber.

Masyarakat setempat percaya gua ini dapat dijadikan tempat ngalap (meminta) berkah. Ternyata tidak hanya penduduk Desa Klaces, warga dari tempat lain, bahkan yang di luar Kabupaten Cilacap, pun meyakininya. Maka, tak mengherankan, pada malam Jumat Kliwon, Selasa Kliwon, ataupun pada hari-hari yang dianggap sakral, Gua Masigit Sela ramai dikunjungi orang dari berbagai daerah. Atas kejelian Pemerintah Kabupaten Cilacap melihat fenomena ini, Gua Masigit Sela dijadikan salah satu destinasi wisata spiritual andalan Cilacap.

Setelah melihat Gua Masigit Sela, kami kembali ke compreng untuk meneruskan perjalanan menuju Desa Ujungalang, yang juga masih bagian dari Kecamatan Kampung Laut. Sementara di Desa Klaces, kami melihat hamparan sawah, di Desa Ujungalang kami menyaksikan tumpukan kulit kerang di setiap sudut desa. Bahkan sebagian dari jalan setapak tertutupi kulit kerang.

Menurut penduduk setempat, yang kami jumpai di sebuah warung kopi, penduduk Kecamatan Kampung Laut merupakan keturunan para prajurit Kerajaan Mataram. Konon, menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, prajurit Mataram dikirim ke perairan Segara Anakan untuk mengamankan kawasan tersebut dari gangguan bajak laut orang Portugis. Empat pemimpin turut mengiringi pasukan ini, yakni Jaga Playa, Jaga Praya, Jaga Resmi, dan Jaga Laut. Di bawah kepemimpinan empat orang ini, perairan Cilacap dan Segara Anakan aman dari gangguan para perompak.

Setelah keadaan wilayah perairan tersebut aman, para prajurit itu memutuskan tidak kembali ke pusat kerajaan. Mereka memilih bermukim di Pulau Nusakambangan. Namun, seiring dengan berkembangnya kekuasaan pemerintah Hindia Belanda di Pulau Jawa dan melemahnya kekuatan Kerajaan Mataram, banyak daerah yang semula di bawah Kerajaan Mataram beralih dikuasai oleh Hindia Belanda. Cilacap dan Nusakambangan termasuk di dalamnya. Pada masa itu, para penjahat, pemberontak, atau siapa pun yang dianggap melanggar hukum pemerintahan Hindia Belanda dibuang ke Pulau Nusakambangan.

Keberadaan para narapidana di Pulau Nusakambangan ini ternyata menciptakan konflik antara mereka dan keturunan para prajurit itu. Lama-kelamaan keturunan prajurit kerajaan memutuskan menyingkir dari Pulau Nusakambangan, kemudian membuat rumah-rumah panggung dari kayu tancang di atas perairan Segara Anakan. Seiring dengan berjalannya waktu, rumah panggung pun terus bertambah dan akhirnya membentuk perkampungan. Dari sinilah nama Kampung Laut berasal.

“Sekitar 30 tahun yang lalu, kami secara perlahan pindah ke daratan-daratan yang ada di sekitar Segara Anakan,” tutur sang pemilik warung kopi, yang juga ketua rukun warga setempat. Kepindahan dari perairan ke daratan ini, menurut dia, karena beberapa hal, antara lain semakin sulitnya mendapatkan kayu tancang untuk bahan bangunan rumah. Selain itu, pendangkalan yang terjadi pada perairan akibat sedimentasi lumpur yang dibawa dari sungai-sungai yang mengalir ke Segara Anakan menyebabkan rumah panggung mereka menjadi lebih cepat rusak.

Kampung Laut secara administratif merupakan kecamatan yang membawahkan empat wilayah desa, yakni Klaces, Ujung Gagak, Panikel, dan Ujungalang.

“Baru sekitar tiga tahun yang lalu secara administratif kami diakui oleh pemerintah,” tutur Ketua RW 02 Desa Ujungalang itu.

Agak memprihatinkan, memang. Masyarakat yang telah ada sekian lama ternyata baru diakui oleh negara sekitar tiga tahun lalu. Ini artinya fasilitas penunjang kesejahteraan dari pemerintah, seperti pelayanan kesehatan dan pendidikan, pun belum lama ada. Maka tak aneh, ketika melihat sekeliling Desa Ujungalang, rumah-rumah dari kayu yang tak terawat, bahkan hampir roboh, menjadi pemandangan yang biasa.

Tampaknya sejarah ketersingkiran yang dialami masyarakat Kampung Laut terus berulang. Dulu mereka harus menyingkir dari Pulau Nusakambangan ke perairan karena merasa terganggu oleh tingkah laku para narapidana. Lalu, lantaran keterbatasan sumber daya alam dan pendangkalan Segara Anakan, mereka pun harus kembali mencari daratan yang bisa menampung mereka.

Kondisi Kampung Laut saat ini pun tidak bisa dikatakan makmur. Rumah-rumah dari kayu, yang sudah mengelupas di tiap-tiap temboknya dan kurang terawat, cukup menggambarkan kemiskinan yang mereka alami. Seiring dengan pengendapan pada Segara Anakan, penduduk di sebagian kawasan di Kampung Laut harus beralih mata pencaharian, dari nelayan menjadi petani. Sesuatu hal yang di luar kebiasaan mereka.

Sementara itu, sebagian yang lain mencoba bertahan menjadi nelayan, meski semakin hari hasil ikan tangkapan kian berkurang. Perubahan mata pencaharian dari nelayan menjadi petani pun tidak bisa dikatakan tanpa kendala. Pembalakan liar di hutan Nusakambangan menyebabkan terjadinya kerusakan hutan. Ini berakibat mengeringnya sumber air yang biasanya untuk memenuhi kebutuhan Kampung Laut pada musim kemarau.

nb: Tulisan ini sudah pernah di tampilkan di Koran Tempo pada Senin, 25 Mei 2009